Setelah di rilisnya 82 nama tokoh muhammadiyah pada 11 juli
kemarin, maka genderang perang mulai di tabuh. Aroma persaingan dan rivalitas
mulai menyengat. Masing-masing kubu mulai pasang kuda-kuda. Dari sekian nama
bakal calon terselip sebuah nama yang tidak asing lagi bagi kalangan sekolah
kader Muallimin-Muallimat, ya itu Dr. Khoirudin Bashori (kak Irud).
Dari sisi person Dr. Khairuddin Bashori
kalah mentereng dibandingkan dengan kandidat lain Busyro Muqoddas,
mantan pemimpin Komisi Pemberantasan Korupsi; Prof Muhadjir Effendy, Rektor
Universitas Muhammadiyah Malang; Yunahar Ilyas, Ketua Pengurus Pusat
Muhammadiyah; Prof Zamroni, Bendahara Umum Muhammadiyah; Agung Danarto,
Sekretaris Umum Muhammadiyah; Sukriyanto A.R., Ketua PP Muhammadiyah; dan Abdul
Mu’ti, Sekretaris PP Muhammadiyah.
Mungkin yang paling menonjol adalah karena
Dr. Khoiruddin Bashori pernah memimpin Universitas Muhammadiyah Yogyakarta,
itupun di tandai dengan adanya kasus-kasus kontroversi. Walaupun bisa lolos
dari kasus tersebut, tetap saja Muhammadiyah menganggap itu sebagai aib yang
tidak bisa di maafkan. Namun langkah tepat dengan mengundurkan diri se
bagai orang nomer satu di UMY mampu
mengangkat namanya sebagai tokoh demokratis sejati di Indonesia.
Lalu habiskah peluang kakak kelas dan
ustadz kita tercinta ini? Tentu belum habis. Peluang datang dari kita, dari
sesama alumni. Jika alumni mualimin dan muallimat banyak berkiprah di
persyarikatan, mulai dari ranting sampai wilayah maka peluang itu akan terbuka
lebar. Di luar itu organisasi alumni seperti KABAMMMA harus menjadi "bahan
bakar" untuk membawa Dr. Khoirudin Bashori ke Orbit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar