Militan

Militan
Pelopor Militan

Senin, 20 Juni 2016

Harapan baru di era berkemajuan


Tanggal 15 ramadhan 1437 adalah hari yang bersejarah bagi Madarasah Muallimin MuhammadiyahYogyakarta. Di tanggal tersebut yang bertepatan dengan tanggal 20 juni 2016 masehi. Telah di lantik direksi baru untuk membawa muallimin ke era yang berkemajuan. Bukan hanya bagi muallimin sebagai institusi, hari tersebut adalah hari yang bersejarah juga bagi para direktur baru tersebut. Berikut  Susunan direksi Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta Periode 2016-2020
Dengan susunan sebagai berikut:
Direktur : Aly Aulia, Lc.,M.A.

Wakil Direktur I: Dr. Muhammad Lailan Arqam
Wakil Direktur II: Alfian Dja'far, M.H.
Wakil Direktur III: Dedik Fathul Anwar, M.Pd.I.
Wakil Direktur IV: Nayif Fairuza, S.S., M.Pd.I.
but.


Tentu jabatan tersebut bukanlah hal yang main-main karena dari mualliminlah dan di pundak merekalah warna Muhammadiyah akan indah di lihat atau sebaliknya. Tantangan mereka tidaklah mudah permasalahan klasik yaitu antara perbaikan karakter dan mental  santri muallimin, prestasi akademik dan keterbukaan informasi tentu akan menjadi tantangan tersendiri. 

Kerja sama harmonis antara direksi sebagai pelaksana lapangan dengan BPH mesti harus sejalan dan seirama. Komunikasi kedua elemen ini dituntut tidak memiliki presepsi yang berbeda tentang tujuan, visi dan misi Madrasah Muallimin Muhammadiyah. Jika melihat dari kemampuan, latar belakang pendidikan dan pengalaman organisasi hubungan antara BPH dan Direksi yang baru akan terjalin harmonis, tentu ini merupakan angin segar bagi para pemerhati madarasah muallimin.

Namun riak konflik justru diperkirakan akan terjadi pada intern pelaksana harian dan instrument kebawahnya. Justru ini mesti dijadikan senjata yang ampuh untuk saling meluruskan langkah. Di lain pihak sentimen angkatan tentu juga harus diperhitungkan oleh para Raja-raja muda ini. Silaturahmi dan komunikasi harus terus dibangun antara direksi dan lembaga legal formal seperti KABAMMA atau IKMAMMM

Walau bagaimanapun KABAMMMA yang terlihat seperti singa tua yang sakit-sakitan tetap saja harus dianggap sebagai kekuatan besar yang akan mampu menopang tujuan, visi dan misi Madrasah Muallimin Muhammadiyah. Juga person-person yang secara formal tidak tergabung kedalam organisasi alumni tersebut mesti diajak urun rembug dalam menentukan muallimin kedepan.




Minggu, 19 Juni 2016

Muallimin Export juru Dakwah

Sebagai alumni muallimin, kita semua pasti bangga dengan di kirimnya anak-anak panah Muhamadiyah ke luar negeri. Ini membuktikan sebuah keberhasilan pendidikan yang dirancang ahli dan insiyur pendidik sekolah kader muhammadiyah. Publikasi yang masif juga membuktikan uporia yang tak terbendung dari rasa sebuah kebanggaan akan dikirimnya juru dakwah ke Malaysia, sebuah negara dimana tingkat ekonomi dan kemakmuran rakyatnya jauh mengungguli indonesia. 

Namun mari kita lihat dari sisi yang berbeda, persoalan keagamaan di masyarakat Indonesia tidak lebih berat dari negara Malaysia, konflik keagamaan yang mestinya mendapat perhatian dari semua anak bangsa di indonesia ini seakan tak pernah sirna, pembakaran mesjid di papua, serta larangan-larangan menegakan syariah terus mendera bangsa dimana muslim adalah mayoritas dari penduduknya. Jika melihat kondisi di dalam negeri atau di kampung halaman kita yang babak belur dengan masalah aqidah, maka istilah yang tepat adalah program pertukaran pelajar bukan export juru dakwah. Karena akan sangat ironis jika di negara sendiri carut marut, lalu demi untuk mengejar sebuah prestise kita mengirim juru dakwah kita keluar negeri. Jika mayoritas alumni menganggap ini sebuah keberhasilan maka kami menganggap ini sebuah kemunduran.


Ketika kita mengingat kembali pada periode awal dakwah Umat Islam, akan terlihat jelas betapa pentingnya dakwah kepada keluarga, kepada lingkungan terdekat. Bibit-bibit pertama pada periode sirriyah (rahasia) terdapat dalam rumah Nabi saw. Orang-orang yang pertama kali masuk Islam setelah Rasulullah saw. adalah istrinya, Siti Khadizah mantan budaknya, Zaid bin Haritsah; serta anak pamannya, Ali bin Abi Thalib; dan juga anak-anak perempuan beliau. Pada periode jahiriyah (terang-terangan), Nabi saw. mengajarkan dakwah kepada keluarga dekat yaitu Bani Hasyim  dan Bani Muthalib.