Militan

Militan
Pelopor Militan

Minggu, 29 September 2013

Kembali Online

Bissmillahirrahmanirahim.
Dengan mengucapkan Alhamdulillahirabilalamien,,,,Militanmuhammadiyah.blogspot.com, yang sempat di bredel dan di cabut ijin terbitnya sekarang sudah bisa terbit kembali....awalnya Media silaturahmi dan syiar muhammadiyah ini bernama Kabammma.blogspot.com. Namun nama itu dianggap tabu dan saru oleh para senior( mungkin setengah senior) akhirnya di ganti menjadi militanmuhamadiyah.blogspot.com. Nama terakhir juga masih jadi masalah dan akhirnya media online http://Militanmuhammadiyah.blogspot.com di bredel.

Sekarang kami online kembali.....buat para senior kakak, adik dan teman2...yang tulisan ilmiahanya di tolak di suara muhammadiyah silahkan tuangkan disini....tapi kami mohon maaf belum bisa memberi penghargaan atas tulisan teman-teman. selain ucapan terimakasih.


SEBUTIR NASI, SEJUTA MAKNA


oleh: 
Burhan Pecinta Kopi




Kemarin saya menulis status tentang Raphael, dan ada satu senior Mu’allimin yang komen di status saya. Ini membuat saya jadi BBM, bukan Blackberry messenger tapi Bring Back Memory tentang kenangan di Mu’allimin. Mu’allimin itu sekolah saya dulu waktu di Jogja, gedungnya tua dan anak-anaknya pada stress. Ngga tau Mu’allimin sekarang bagaimana, sudah hampir 7 tahun ngga mampir.

Ya Mu’allimin adalah sekolahku dulu, walaupun aku sudah ngga belajar disitu tapi tetap saja ilmu dari situ ngga pernah hilang. Ya aku anak pesantren, ngga usah di tutup-tutupi lagi dan ngga usah heran kalo sekarang aku suka ngeyel dan kadang-kadang nyeleneh. Itu ciri khas dan itulah yang membuat kami unik dan mampu bersaing.
Baiklah, begini ceritanya. Aku lupa kelas berapa dan tahun nya kapan kayaknya sih kelas dua atau ngga kelas tiga, yang jelas aku masih Tsanawiyah. Ruang makan Mu’allimin masih ada di asrama 1 dan setiap makan, pasti ada yang mengawasi. Biasanya sih Musyrif, Musyrif itu apa? Ya pokoknya tugasnya seperti wakil orang tua atau wali siswa ketika di asrama, kaya gitu lah.

Jumat, 08 Februari 2013

PPMMM Goes To IRM

(Tulisan ini saya dapatkan di http://s-miftah-kudo.blog.com/2160271/. sebagai bahan sejarah saya pikir ini perlu diketahui oleh M3mber atau alumni. saya sudah berusaha minta izin agar tulisan ini bisa ditempatkan di sini. namun hingga saat ini saya belum mendapat izin. email pun tidak terlacak. akhirnya saya beranikan diri untuk mengcopynya dan memajangnya di sini. jika penulisnya berkeberatan, akan dihapus.
berbicara tentang perubahan itu, saya juga ingin mendengar cerita dari alumni yang lain atau yang tahu permasalahan perubahan SKM, terima kasih)


Yah, bertahun-tahun sudah penyakit kebingungan melanda siswi Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta. Dan pada periode 2007/2008, kami pimpinan PPMMM memutuskan untuk melebur menjadi IRM. Mungkin bisa dikatakan terlambat jika melihat keadaan IRM yang sedang bersiap diri untuk berubah ke IPM, namun juga bisa dikatakan cukup cepat, melihat keadaan kami yang mendadak memutuskan untuk melebur ke IRM, dengan segala persiapan yang pontang-panting bertanya kesana kemari untuk mendapakan sekadar persetujuan dari pihak madrasah atau pun dukungan dari petinggi IRM di atas sana, jauuuuh sekali. Dan yang jelas dengan perbedaan pendapat yang menimbulkan pro kontra atau bahkan perselisihan di kalangan pimpinan dan anggota.

Hidup-hidupilah Muhammadiyah dan Cari Hidup di Muhammadiyah

M. Yunus (m31n 89)

Pertama kali waktu kembali ke Kampung halaman, ada sejuta keinginan yang hendak dilakukan untuk Muhammadiyah. Ada sejuta agenda dari benak seorang kader yang 'disengajakan' untuk menjadi anak panah Muhammadiyah. Hanya saja ketika berada di lapangan banyak hal yang berbeda dengan angan-angan yang jauh hari dibayangkan. Barangkali kesalahan dalam memahami muhammadiyah, menyebabkan entri point yang saya lakukan menjadi gamang, selama ini yang terekam dalam benak dan menjadi Mind Set seolah-olah muhammadiyah itu adalah gerakan Fiqh Ibadah, karena seolah-olah kalau berbicara tentang Muhammadiyah adalah identik dengan HPTM (Himpunan Putusan Tarjih) yang didalamnya berbicara masalah sholat yang benar, zakat yang benar, dan bid'ah-bid'ah., (dan ini yang sedang dilakukan Mas Syakir saat ini dengan menulis "Sholat sesuai Tuntunan Nabi" ) dan dalam pikiran saya saat itu (dan mungkin banyak kader Muhammadiyah) tidak perlu berbicara masalah fiqh sosial, fiqh syiasah, dan fiqh ekonomi. Dan dalam kenyataan di Masyarakat, sangat sulit membedakan warga Muhammadiyah dengan yang lain, mereka juga tahlilan, syarakalan, tibaan, qunutan dan yang membedakan hanya satu Papan Namanya. Sehingga bayangan saya menjadi Buyar, dan ini bukan menjadi masalah utama di Masyarakat.



Masalah utamanya ternyata adalah kemiskinan atau permasalahan ekonomi, kalau sampai area ini kader menjadi gamang, gerakan apa yang pas dibuat dari setting masyarakat yang demikian, satu sisi mereka butuh problem solving disisi lain ekonomi kader tidak jauh dari Mad'unya...alis sawaun kaana.

Kita sama sekali belum diajarkan bagaimana konsep dakwah ekonomi Muhammadiyah, untungnya saya banyak belajar berorganisasi di SKM (sekarang al Marhum siapa yang tanggung jawab?), SKM telah mengajarkan keberanian beorganisasi dengan tidak menginduk ke organisasi Pemuda manapun, sehingga seringkali Improvisasi menjadi andalan, dan ini sebenarnya modal utama seorang kader. Nekat dan serba bisa.

Saya Nekat mendirikan Koperasi, Nekat membuat toko Grosir, Nekat Melakukan Community Development, bahkan nekat kerjasama dengan Gereja Jawi Wetan mengembangkan pelatihan komputer (dan yang ini banyak mendapat kecaman).

Dan saya jadi teringat Mas Adib (terakhir saya dengar beliau aktif di JT) dan Mas Tukijo (terakhir saya dengar setelah pulang dari Dakwah di Ambon beliau aktif di sebuah gerakan Tarekat Kejawen yang menganggap sholat cukup dengan eleng dan sekarang mengembangkan wirausaha di jl. kaliurang bersama jamaahnya) kedua orang tersebut sangat giat mengembangkan Koperasi SKM, bahkan kios Koperasi menjadi kamar utama tempat mereka tinggal mereka.

Di tingkat Nasional Muhammdiyah juga tidak terlalu berselera jika diajak bicara tentang ekonomi, ini bisa dilihat dari tokoh Nasional yang muncul di permukaan, di bidang Ekonomi kita tidak bisa dilepaskan dari nama Syafi'i Antonio atau yang lain, sedang Prof. Dawam Raharjo yang ahli ekonomi menjadi bukan Muhammadiyah hanya gara-gara membela Ahmadiyah (dari sisi humanismenya) blow up isu tentang Muhammadiyah yang paling besar saat ini hanya berkisar masalah Perbedaan Pelaksanaan Sholat Idul Fitri, sedang masalah ekonomi/perbankan seolah-olah bukan menjadi area Muhammadiyah, sehingga wajar jika pengeloaan Bank Persyarikatan menjadi bangkrut karena selama ini yang banyak diurus Muhammadiyah adalah ikhtilaf-ikhtilaf yang sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan. Apalagi jika bicara AsySyiasyah seolah alergi tapi Mau (coba lihat kedekatan Din Samsudin dengan Capres tertentu). Atau Buya Syafii yang kader Asli Muhammadiyah beliau juga belum merasa asyik bicara tentang ekonomi Muhammadiyah, beliau masih asyik menjotosi orang-orang Islam yang masih berbeda fikrah dalam bergaul dengan non Muslim (baca tulisan-tulisan beliau di resonansi).

Jadi wajar jika sulit Menghidup-hidupkan Muhammadiyah karena pola pikir tentang Muhammadiyah menjadi bias. Seolah-olah kalau berbicara bisnis, jangan di Muhammadiyah karena itu dianggap mencari hidup di Muhammadiyah sehingga wajar kalau kader Muhammadiyah mencari hidup diluar Muhammadiyah dan susahnya lalu sulit untuk menghidupi Muhammadiyah karena ternyata rumah lain yang menghidupi kita minta kita menghidup-hidupkan rumah mereka. Semoga tidak betul.

m3circle.multiply.com/journal/item/41/HIDUP-HIDUPILAH-MUHAMMADIYAH-DAN-CARI-HIDUP-DI-MUHAMMADIYAH

Semua Masuk Surga Kecuali Satu


Lampu dari tanah ini berbeda dengan sumbu itu,
tetapi cahaya mereka tidak berbeda: ia dari Alam Sana.
Jika engkau terus memandang kaca lampu, engkau akan bingung,
karena dari kaca muncullah sejumlah keragaman.
Tetapi jika pandanganmu tetap kepada Cahaya,
engkau akan terbebas dari keragaman
dan bermacam-macamnya bentuk yang terbatas. (Rumi)

Umatku akan berkelompok-kelompok hingga menjadi tujuh puluh tiga kelompok, yang selamat diantara mereka satu kelompok dan sisanya binasa. `Siapakah yang satu itu? tanya seseorang. Beliau menjawab :`Ahl as-Sunnah wa al-jama`ah.“

Pernah dengar hadis itu? hadis seperti ini menjadi senjata penting untuk mengklaim kebenaran dan menyalahkan bahkan mengkafirkan kelompok lain. Betulkah pemaknaannya sangat sempit dan menunjuk pada satu golongan tertentu yang sekarang -atau dulu- pernah ada? 

Rabu, 06 Februari 2013

muallimin past, present and future


Ole: Ikhwanudin Che

Baru saja, tanpa sengaja saya menemukan sebuah leaflet tentang Muallimin Yogyakarta, saya perkirakan dicetak pada tahun 1994-an, karena di halaman belakang jumlah asramnya baru 5 tempat (asrama dekat masjid Al-barokah). Biasa-biasanya pertama menemukannya, ah.. masih ada to buku lama pikirku. Tetapi ada sesuatu yang menarik di halaman sebelum terakhir, yaitu halaman yang memuat komentar Alumni (Prof., DR. Syafii Maarif, DR. Khoiruddin Bashori., Drs. Med, Athailla A. Latif dan Zamroni A.S.,B.A.).
   
Buya Syafii menceritakan bagaimana kebesaran Mu’allimin sebagai sebuah mercusuar yang dikenal dalam proses pembentukan KEPRIBADIAN dan wawasan keagamaan yang diasuh oleh ulama-ulama beken seperti: KH. Jazari Hisyam, KH. Mahfudzh Siradj, Kyai Balia Umar dan sebagianya. Dalam komentarnya, Buya Syafii menegaskan akan penting Muallimin sebagai sekolah yang diperlukan dalam memberikan fondasi kepribadian dan wawasan keagamaan bagi calon-calon pejuang Islam di Negeri ini. Tetapi, Buya juga mengingatkan bahwa:  kondisi masyarkat telah berubah, zaman sekarang jauh lebih maju dibandingkan dengan masa dia (Buya Syafi’i) lulus dari Mu’allimin, dulu dengan hanya berbekal kemualliminannya saja sudah cukup untuk terjun ke tengah-tengah masyarakat karena sebagian besar masyarakat buta huruf!


Baru saja, tanpa sengaja saya menemukan sebuah leaflet tentang Muallimin Yogyakarta, saya perkirakan dicetak pada tahun 1994-an, karena di halaman belakang jumlah asramnya baru 5 tempat (asrama dekat masjid Al-barokah). Biasa-biasanya pertama menemukannya, ah.. masih ada to buku lama pikirku. Tetapi ada sesuatu yang menarik di halaman sebelum terakhir, yaitu halaman yang memuat komentar Alumni (Prof., DR. Syafii Maarif, DR. Khoiruddin Bashori., Drs. Med, Athailla A. Latif dan Zamroni A.S.,B.A.).
   Buya Syafii menceritakan bagaimana kebesaran Mu’allimin sebagai sebuah mercusuar yang dikenal dalam proses pembentukan KEPRIBADIAN dan wawasan keagamaan yang diasuh oleh ulama-ulama beken seperti: KH. Jazari Hisyam, KH. Mahfudzh Siradj, Kyai Balia Umar dan sebagianya. Dalam komentarnya, Buya Syafii menegaskan akan penting Muallimin sebagai sekolah yang diperlukan dalam memberikan fondasi kepribadian dan wawasan keagamaan bagi calon-calon pejuang Islam di Negeri ini. Tetapi, Buya juga mengingatkan bahwa:  kondisi masyarkat telah berubah, zaman sekarang jauh lebih maju dibandingkan dengan masa dia (Buya Syafi’i) lulus dari Mu’allimin, dulu dengan hanya berbekal kemualliminannya saja sudah cukup untuk terjun ke tengah-tengah masyarakat karena sebagian besar masyarakat buta huruf!
   Kak Irud (panggilan DR Khoiruddin B) berkomentar bahwa masuknya ke Mu’allimin karena ‘dipaksa’ orangtua yang fans berat M3in, jadi keluarganya memang Muin-Muaters sejati…  dalam komentarnya, kak Irud menyinggung beberapa sikap di Muallimin seperti : disiplin, hidup bersih, kerja keras, berani memimpin dan banyak menghafal.. pada akhirnya menyimpulkan bahaw menjadi pemimpin umat itu cerdas saja tidak cukup, tetapi harus di tunjang dengan kepribadian yang Kuat (strong personality).. 
   Senada dengan kak Irud, Kak Athaillah juga memberikan komentar yang intinya kehidupan di Mu’allimin memberikan ‘rasa’ sendiri dalam kaitannya dengan kehidupan selepas dari Muallimin
  Pak Zamroni lain lagi, beliau pada awalny tertarik dengan Muallimin karena alumni-alumninya yang kebetulan menjadi GURU Sekolah Menengah Islam di Imogiri merupakan sosok yang ulet dalam belajar, kualitas keagamaan  dan keilmuan yang handal. Di Muallimin beliau merasakan gemblengan yang luar biasa yang berefek pada kontribusinya bagi masyarkat luar.
   Dari beberapa komentar di atas, nampaknya yang menjadi poin penting bagi alumni Muallimin adalah apa yang sekarang disebut dengan pendidikan karakter (pendidikan karakter menjadi 'penting' pasca kasus plagiat karya tulis memang di Indonesia. Lihat KOMPAS sabtu 20 Februari 2010).. ternyata, tanpa kita sadari Muallimin (dulu) sudah lekat dengan nilai atau karekter seorang pejuang istilah kerennya murid Muallimin itu mempunyai prinsip. Ini kemudian yang menjadikan saya ingat dengan beberapa cerita dengan setting tahun 90-an, dimana dalam skala daerah Jogjakarta (khususnya Muhammadiyah).. contohnya adalah, akhir tahun 80-an, Muallimin meraih _kalo tidak salah, juara 1-2-3 untuk semua kelas, hanya Muallimin sajalah yang 'mampu' mengimbangi hegemoni kauman sebagai pusat Tapak suci, artinya.. sudah lama Muallimin itu mempunyai karakter kuat, Cuma dalam bentuk yang abstrak, bentuk konkretnya ya harus dicari tahu… mungkin alumni bisa membantu.
   Tapi perlu di catat, 4 komentar di atas diwakili oleh 3 masa yang berbeda, 
Masa 1 (buya Syafii alumni tahun 1956, Pak Zamroni lulus tahun 1959 merupakan alumni dimana mUallimin waktu itu belum diwajibkan berasrama)
Masa 2 (kak Khoirudin B, lulus tahun 1981)… kalau berdasarkan sejarah sih, cukup setahun saja ka Irud merasakan kewajiban asrama.. karena pada tahun 1980, Direktur Muallimin waktu itu, Allahu yarham KH. Suparpto Ibn Juraimi, memberlakukan system ‘long life education” (entah, ada penjabaran secara utuh atau tidak tentang system ini.. tetapi sejauh ini saya belum menemukan langkah-langkah taktis operasionalnya di Muallimin), intinya, ASRAMA menjadi bagian tidak terpisahkan dari pendidikan Mu’allimin. Artinya, tujuan Muallimin yang sesuai dengan idealismenya HANYA BISA DICAPAI dengan memadukan system Madrasah dan Asrama 
Masa 3 adalah kak Athaillah (lulus tahun 1989), kakak kita satu ini jelas produk Muallimin yang sudah mengenal asrama sejak masuk… 
    Iseng-iseng saya membandingkan beberapa komentar tersebut, ternyata sependek pemahaman saya, komentar kesemuanya berbeda tetapi mempunyai satu kesamaan yaitu, pendidikan karakter yang diterima selama di Mu’alliimin. Saya tertegun dengan komentar Buya Syafii yang pada hakikatnya mengingatkan akan perubahan zaman.  dan bagi saya Mu’allimin sebagai akademi pencetak pemimpin Muhammadiyah haruslah pandai-pandai mensiasati perubahan zaman agar senantiasa eksis tanpa kehilangan karakter.
    Walhasil, bisa jadi lebih urgen adalah merumuskan sebuhah proses pendidikan yang sarat akan nilai karakter yang hendak di bangun dan dimiliki oleh mereka yang belajar di Muallimin. Tetapi, lagi-lagi ini nanti terbentur dengan realita system pendidikan nasional yang relative kejam terhadap lembaga pendidikan seperti Muallimin… semuanya di ukur dengan lulus ujian nasional (UNAS)…
     Ah.. barangkali, di reuni nanti ada yang dengan rela hati berbagi tentang pendidikan karakter khas Muallimin (atau bisa cerita atau apalah)… 
Salam hangat

Minggu, 03 Februari 2013

Api Semangat Berkobar Dari Daerah



Tepat pada hari Ahad, 4 Sepetember 2011, Keluarga Besar Abiturien Madrasah Muallimin-
Muallimat Muhammadiyah Yogyakarta wilayah Sulawesi mengadakan halal bihalal sekaligus
deklarasi organisasisi paguyuban Muallimin-Muallimat (KABAMMMA) Sulawesi. Acara ini
dilaksakan di rumah keluarga besar Buyung Harjana, Alumni Muallimin 2001.
Pembentukan organisasi ini sebenarnya telah direncanakan sejak setahun yang lalu (2010) akan
tetapi mengalami kendala yang banyak sehingga KABAMMMA Sulawesi dapat dideklarasikan
pada tanggal 4 September 2011.

Awal dibentuknya organisasi ini adalah adanya respon yang serius oleh banyak pihak terhadap
keseriusan KABAMMMA pusat yang berada di Yogyakarta untuk melebarkan sayap organisasi dan
setiap keluarga besar Muallimin-Muallimat yang ada di daerah ikut melengkapi dan mendirikan
organisasi setingkat daerah (paguyuban).
Organisasi ini sangat penting untuk diwujudkan karena berbagai alasan yang melatarbelakanginya.
Kurangnya informasi tentang Madrasah Muallimin untuk disebarluaskan ke ruang publik menuntut
pentingnya organisasi ini dibuat. Disamping itu, para alumni yang tak diketahui lagi dimana
bertempat tinggal dapat dikumpulkan kembali dan mendata semua database anggota agar dapat
menjaga komunikasi utamanya saat dilaksanakan kegiatan-kegiatan KABAMMMA baik di tingkat
pusat maupun daerah.

Orang-orang yang sangat mendukung dibentuknya organisasi ini adalah Pak A. M. Iqbal Parewangi
(alumni 1983, Ketua Umum ICMI Sul-Sel, Direktur GAMA College) dan Pak Ashabul kahfi
(alumni 1977, Wakil Ketua DPRD Prov. Sul-Sel) selaku alumni Madrasah Muallimin
Muhammadiyah juga Ibu Masriwati Malik selaku Alumni Madrasah Muallimat Muhammadiyah
(alumni 1986, Pengurus Aisyiyah Wilayah Sul-Sel).

Pada halal bihalal dan deklarasi terbentuklah beberapa Dewan Pengarah dan Anggota Formatur
untuk memilih ketua umum, sekertaris, bendahara dan membentuk bidang-bidang juga memilih
ketua di setiap bidang. Terpilihlah Dewan Pengarah diantaranya: Pak Ashabul Kahfi, Pak Iqbal
Parewangi dan Masriwati Malik. Anggota formatur diantaranya: Buyung Harjana, Manggazali
(2005), Muhammad Nur (1998), Fatma Nasruddin (1994) dan Zakia (2001).
Acara halal bihalal dan deklarasi KABAMMMA ini berjalan dengan hikmat dan lancar juga
memberikan banyak pelajaran berharga betapa pentingnya organisasi ini dibuat. Di sela-sela
pembahasan dan ramah-tamah, keluarga besar KABAMMMA menikmati Burasa', Rendang, Opor
Ayam dan buah-buahan.

Luar Biasa.... salut buat kabammma makasar.... 

Wardah Hafidz, Produk Muallimat Yogyakarta?



Di keluarga Wardah, ada peraturan tidak tertulis bagi sepuluh orang anak-anak orang-tuanya agar bersekolah di pendidikan Islam minimal hingga tamat sekolah menengah. Lelakinya di kirim ke Gontor, perempuan-nya ke Mualimat di Jogjakarta, setelah sebelumnya sepuluh anak itu menamatkan pendidikan SMP mereka di madrasah milik keluarga di Jombang. Syukur-syukur anak-anak itu lalu mau melanjut-kan studi agama lebih tinggi.
Ide itu sejak awal mencemaskan Wardah. Entah karena alasan apa, Wardah sejak remaja sudah tidak terlalu bergairah dengan ide penyeragaman seperti itu. Ia suka bilang kepada orang-tuanya bahwa dirinya memilih sekolah umum saja. Tentu saja ide itu kontan mengalami penolakan.
Sewaktu dikirim ke Mualimat, Wardah banyak menangis tidak setuju. Orangtuanya tidak surut mengalah. Menyerahlah Wardah. Di sekolah itu ia merasa tidak pas dengan banyaknya aturan-aturan.
Di sekolah itu Wardah menyebut dirinya sebagai "pembuat onar". Ia jago dalam bahasa asing terutama bahasa inggris tapi ogah-ogahan terhadap bahasa yang berbau Arab. Bukan karena bahasa Arabnya, tapi bagian dari pembangkangan akan tradisi keluarganya. Di Mualimat ia sekolah selama enam tahun. Lepas dari sana, ia bertekad memulai pilihannya sendiri.
"Saya sudah melakukan apa yang keluarga inginkan. Kini saya mau melakukan apa yang saya inginkan," ujar Wardah ketika keluarganya mulai menganjurkan dirinya masuk sekolah tinggi agama.

Sabtu, 02 Februari 2013

Pentingnya Muhammadiyah Kembali ke Khitoh

oleh: Yusuf Jamhur

Tulisan ini selain berguna bagi guru-guru SD dan SMP muhamadiayah terutama bidang pelajaran kemuhamadiyahan, juga perlu di baca oleh kader-kader Instan muhamadiyah yang sedang menyibukan dirinya berkarier di muhamadiyah. Di harapkan setelah membaca tulisan ini kader-kader instan ini tidak terkontaminasi budaya "wani piro" atau tidak menjadi mutan "dagang wedhus".

Muhammadiyah didirikan di Kampung Kauman Yogyakarta, pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H/18 Nopember 1912 oleh seorang yang bernama Muhammad Darwis, kemudian dikenal dengan KHA Dahlan .
Beliau adalah pegawai kesultanan Kraton Yogyakarta sebagai seorang Khatib dan sebagai pedagang. Melihat keadaan ummat Islam pada waktu itu dalam keadaan jumud, beku dan penuh dengan amalan-amalan yang bersifat mistik, beliau tergerak hatinya untuk mengajak mereka kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya berdasarkan Qur`an dan Hadist. Oleh karena itu beliau memberikan pengertian keagamaan dirumahnya ditengah kesibukannya sebagai Khatib dan para pedagang.

Jumat, 01 Februari 2013

SEMANGAT PRIMA MEREALISASIKAN


oleh: Muhammad Wachid

42:13. Dia telah mensyari`atkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama) -Nya orang yang kembali (kepada-Nya).

22:78. Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Qur'an) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.

Be The Best, Why Not?

Oleh Muhsin Hariyanto



Dua hari terakhir, saya baca berita di media massa kurang baik dampak psikologisnya untuk generasi muda kita. Apalagi kalau kasus ‘dugaan’ penggunaan narkoba dan korupsi oleh orang ‘yang terkenal’ yang sementara ini menjadi idola banyak orang (utamanya anak-anak muda yang rindu untuk menjadi seperti ‘Sang Idola’ dan pemimpin masa depan). Entah benar atau tidak berita itu, tetapi ‘berita’ itu sudah sedemikian rupa meresahkan banyak pihak. Termasuk saya, yang kebetulan menjadi bapak dari anak-anak saya, dan juga sedang berkhidmat di dunia dakwah.

Bahkan saya sempat bertanya berkali-kali pada diri saya sendiri, kenapa ‘energi’ bangsa ini ‘sering habis’ untuk mencari solusi atas permasalahan yang terus-menerus menimpa dirinya: “dekadensi moral”. 


Dan, yang juga tak kalah penting: “jangan remehkan peran dan pengaruh media, baik cetak dan elektronik”. Banyak opini publik yang ‘terbangun kokoh’ karenanya! Nggak perlu menunggu proses di pengadilan. Begitu media sudah mem-‘blow-up’, banyak orang yang tiba-tiba bisa memerankan diri menjadi ‘hakim’. Kita – tiba-tiba – bisa bihakimi oleh media dan opini publik!

Muhammadiyah Bukan Kelompok Islam Minimalis, Tetapi Proporsionalis


Oleh: Dien Syamsudien
Muhammadiyah bukanlah kelompok Islam minimalis, tetapi Muhammadiyah ialah kelompok Islam proporsionalis. Maksudnya ialah cara ibadah Muhammadiyah itu sesuai dengan proporsinya yang telah diajarkan dan dicontohkan oleh Rasulullah saw., termasuk dalam proporsional di sini adalah adanya pemaknaan dan penghayatan yang mendalam ketika melakukan ibadah ritual. Ucapan salam dalam sholat, dalam pandangannya bukanlah akhir dari ibadah sholat, karena setelah sholat seseorang dituntut untuk mengaktualisasikan nilai-nilai sholat tersebut dalam realitas kehidupannya.
Hal tersebut diungkapkan ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin dalam Tabligh Akbar di Gedung Kelab Sultan Sulaiman, Kg. Baru, Bandar Kuala Lumpur, Rabu (20/04/2011) Berdasarkan pola pemikiran diatas menurut Din, Muhammadiyah tidak pernah lelah untuk mendorong umat Islam, khususnya warga Muhammadiyah agar melembagakan amal saleh yang fungsional dan solutif, sebagai pancaran iman yang sempurna dan untuk merefleksikan ajaran Islam yang memberikan rahmat atau kasih sayang bagi seluruh alam semesta (rahmatan lil 'alamin).

Ketika 'Iblis' Menjadi Tak Berdaya


oleh: Muhsin Hariyanto


Iblis tak akan pernah berputus asa untuk senantiasa menggoda umat manusia. Tujuannya satu: "menjadikan manusia tersesat dari jalan Allah'. Tetapi dia (Iblis) tak akan perbah mampu menggoda hamba-hamba Allah yang telah memiliki kararakter mukhlashin. Siapakah mereka? Merekalah yang telah 'ikhlassh' beribadah untuk dan karena Allah semata.

Kamis, 31 Januari 2013

Dr.Khaerudin Bashari Masuk dalam 100 kisah pengunduran diri para pemimpin dan akademisi dunia


100 KISAH DRAMATIS PENGUNDURAN DIRI TOKOH DAN PEMIMPIN DUNIA
BBC melaporkan Sabtu 10 November 2012 Direktur CIA, David  Petraeus mundur dari jabatannya  karena selingkuh dengan penulis biografinya Paula Broadwell. bahwa selama ia menikah 37 tahun ia dihadapkan dengan sesuatu yang amat buruk ,yang terlibat hubungan diluar nikah.Hal ini tidak boleh terjadi di negara ini serta ini tidak bisa di terima baik sebagai suami maupun sebagai pemimpin organisasi CIA,ujarnya dengan sangat menyesal.

Masih berita dari amerika, Richard Nixon merupakan presiden Amerika Serikat pertama yang mengundurkan diri dari jabatannya. Pengundurannya datang sebagai tanggapan pada ruwetnya skandal yang disebut Skandal watergate. Ia mengumumkan berakhirnya Perang vietnamyang telah menelan korban ribuan tentara pada januari  tahun 1973 . Pengumuman itu secara tidak langsung menjadi pengakuan Amerika bahwa mereka kalah perang di kancah asia tenggara

Rabu, 30 Januari 2013

Hikmah malam: Orang merokok tidak boleh shalat jamaah di masjid


Nabi saw bersabda,

مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ وَالثُّومَ وَالْكُرَّاثَ - فَلاَ يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا فَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ .
"Barangsiapa yg makan bawang merah, bawang putih, n daun bawang; jangan skali2 dia mendekati masjid kami, karena malaikat tersakiti dari apa2 yg bisa menyakiti manusia.” [Hr. muslim dari jabir]

Ibnu hajar berkata,
وَقَدْ أَلْحَقَ بِهَا الْفُقَهَاء مَا فِي مَعْنَاهَا مِنْ الْبُقُول الْكَرِيهَة الرَّائِحَة كَالْفُجْلِ ، ... وَأَلْحَقَ بِهِ بَعْض الشَّافِعِيَّة الشَّدِيد الْبَخْر وَمَنْ بِهِ جِرَاحَة تَفُوح رَائِحَتُهَا .
“Dlm hal ini, para fuqoha menyertakan apa pun yg masuk dlm maknanya dari sayur2an yg baunya tdk enak, spt lobak. … Sementara itu sbagian ulama madzhab syafi’i memasukkan asap2n yg menyengat baunya n orang yg punya luka baunya menusuk hidung." [fathul bari]

PENTINGNYA ALUMNI MUALLIMIN DAN MUALLIMAT AKTIF DI PWM,PDM,PCM DAN RANTING Oleh: Yusuf Jamhur



Sebagai salah satu lembaga pendidikan kader yang memiliki keistimewaan di antara lembaga pendididkan Muhamadiyah lainnya, sudah selayaknya alumni muallimin dan muallimat memberikan warna di daerah masing-masing. Selain itu kita juga memiliki tanggung jawab moral sebagai kader persyarikatan.

KABAMMMA MULAI BERBENAH

SEKOLAH MADRASAH MUALLIMIN DAN MUALLIMAT MUHAMADIYAH ADALAH MERUPAKAN DUA SEKOLAH PUTRA DAN PUTRI DIMANA PARA ALUMNI ATAU ABITURAINNYA TERGABUNG DALAM SEBUAH WADAH YANG BERNAMA  KABAMMMA


SKM