Militan

Militan
Pelopor Militan

Minggu, 19 Juni 2016

Muallimin Export juru Dakwah

Sebagai alumni muallimin, kita semua pasti bangga dengan di kirimnya anak-anak panah Muhamadiyah ke luar negeri. Ini membuktikan sebuah keberhasilan pendidikan yang dirancang ahli dan insiyur pendidik sekolah kader muhammadiyah. Publikasi yang masif juga membuktikan uporia yang tak terbendung dari rasa sebuah kebanggaan akan dikirimnya juru dakwah ke Malaysia, sebuah negara dimana tingkat ekonomi dan kemakmuran rakyatnya jauh mengungguli indonesia. 

Namun mari kita lihat dari sisi yang berbeda, persoalan keagamaan di masyarakat Indonesia tidak lebih berat dari negara Malaysia, konflik keagamaan yang mestinya mendapat perhatian dari semua anak bangsa di indonesia ini seakan tak pernah sirna, pembakaran mesjid di papua, serta larangan-larangan menegakan syariah terus mendera bangsa dimana muslim adalah mayoritas dari penduduknya. Jika melihat kondisi di dalam negeri atau di kampung halaman kita yang babak belur dengan masalah aqidah, maka istilah yang tepat adalah program pertukaran pelajar bukan export juru dakwah. Karena akan sangat ironis jika di negara sendiri carut marut, lalu demi untuk mengejar sebuah prestise kita mengirim juru dakwah kita keluar negeri. Jika mayoritas alumni menganggap ini sebuah keberhasilan maka kami menganggap ini sebuah kemunduran.


Ketika kita mengingat kembali pada periode awal dakwah Umat Islam, akan terlihat jelas betapa pentingnya dakwah kepada keluarga, kepada lingkungan terdekat. Bibit-bibit pertama pada periode sirriyah (rahasia) terdapat dalam rumah Nabi saw. Orang-orang yang pertama kali masuk Islam setelah Rasulullah saw. adalah istrinya, Siti Khadizah mantan budaknya, Zaid bin Haritsah; serta anak pamannya, Ali bin Abi Thalib; dan juga anak-anak perempuan beliau. Pada periode jahiriyah (terang-terangan), Nabi saw. mengajarkan dakwah kepada keluarga dekat yaitu Bani Hasyim  dan Bani Muthalib.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar