Sebagai alumni
muallimin, kita semua pasti bangga dengan di kirimnya anak-anak panah
Muhamadiyah ke luar negeri. Ini membuktikan sebuah keberhasilan pendidikan yang
dirancang ahli dan insiyur pendidik sekolah kader muhammadiyah. Publikasi yang
masif juga membuktikan uporia yang tak terbendung dari rasa sebuah kebanggaan
akan dikirimnya juru dakwah ke Malaysia, sebuah negara dimana tingkat ekonomi
dan kemakmuran rakyatnya jauh mengungguli indonesia.
Namun mari kita lihat
dari sisi yang berbeda, persoalan keagamaan di masyarakat Indonesia tidak lebih
berat dari negara Malaysia, konflik keagamaan yang mestinya mendapat perhatian
dari semua anak bangsa di indonesia ini seakan tak pernah sirna, pembakaran
mesjid di papua, serta larangan-larangan menegakan syariah terus mendera bangsa
dimana muslim adalah mayoritas dari penduduknya. Jika melihat kondisi di dalam
negeri atau di kampung halaman kita yang babak belur dengan masalah aqidah,
maka istilah yang tepat adalah program pertukaran pelajar bukan export juru dakwah.
Karena akan sangat ironis jika di negara sendiri carut marut, lalu demi untuk
mengejar sebuah prestise kita mengirim juru dakwah kita keluar negeri. Jika
mayoritas alumni menganggap ini sebuah keberhasilan maka kami menganggap ini
sebuah kemunduran.
Ketika
kita mengingat kembali pada periode awal dakwah Umat Islam, akan terlihat jelas
betapa pentingnya dakwah kepada keluarga, kepada lingkungan terdekat.
Bibit-bibit pertama pada periode sirriyah (rahasia) terdapat dalam rumah Nabi
saw. Orang-orang yang pertama kali masuk Islam setelah Rasulullah saw. adalah istrinya, Siti Khadizah mantan budaknya, Zaid bin Haritsah; serta anak
pamannya, Ali bin Abi Thalib; dan juga anak-anak perempuan beliau. Pada periode
jahiriyah (terang-terangan), Nabi saw. mengajarkan dakwah kepada keluarga dekat
yaitu Bani Hasyim dan Bani Muthalib.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar