Tanggal 19 januari Militan berkunjung ke madrasah muallimin Muhammadiyah Niat hati hanya ingin shalat ashar, tanpa di sengaja militan bertemu dengan seluruh direktur Muallimin dan jajaran pimpinan. Dalam pertemuan yang tidak di rencanakan tersebut terungkap tentang madrasah ini. Sangat mengejutkan memang Bahwa para pimpinan ini belum setahun menjalankan amanahnya namun perubahan bisa di lihat di sana-sini. Ustad Muhammad Alfian Dja`far (direktur III) mengajak saya keruangan pribadinya saya sangat terkejut melihat penataan ruangan yang cukup rapi layaknya sebuah ruang sidang di gedung anggota dewan perwakilan rakyat yang terhormat.
Ustadz Muh. Alfian menjelaskan kepada saya tentang kreatifitas para siswa yang begitu tinggi, mengakibatkan kritik-kritik pedas yang di arahkan kepada pihak madrasah semakin memiliki nilai yang tinggi, yang tentunya tidak bisa di anggap sebelah mata oleh madrasah karena kritik pedas para siswa tersebut adalah sebuah kritik yang membangun.
Kebebasan berfikir dan berkreasi para siswa ini sepertinya sedang di bangun oleh madrasah tentu ini bertujuan agar kelak di kemudian hari para anak panah ini semakin cerdas tidak jumud dan bijaksana dalam mengembangkan dakwah. Bayangkan saja dalam sebuah kritiknya mereka membuat Film pendek yang di posting di youtube.com yang tentunya ini bisa di tonton oleh jutaan pemirsa di dunia.
Sepertinya PP. Muhammadiyah tidak keliru dalam memilih team yang tepat dalam mengelola madrasah ini. Kekompakan dan kemajuan berpikir para direktur ini bisa kita baca di banyak kebijakan dan perubahan fisik madrasah. Berbicara lebih lanjut Ustadz Moh Alfian mengatakan bahwa saat ini Unsur pimpinan sedang di pusingkan dengan membludaknya calon-calon siswa baru. Untuk pendaftaran calon siswa baru gelombang pertama tahun ajaran ini tercatat sudah 350 calon siswa mendaftar. Jumlah itu sama dengan jumlah pendaftaran gelombang pertama dan kedua tahun sebelumnya. Di perkirakan akan ada sekitar 500-600 ratus calon santri yang akan mendaftar tahun ini. Kenapa tidak semua di terima saja ustadz? tanya militan, Ustadz alfian pun tertawa, dan "berkata kita tidak bisa menampung siswa sebanyak itu"
Sedang asyik berbincang dengan ustadz alfian tiba-tiba pimpinan yang lain berdatangan dan menyalami saya (Ustadz Dr. Lailan Arqom, Ustadz Aly Aulya Lc. dan Ustadz Nayif Fairuza) suasana menjadi ramai seperti sebuah reuni kecil. Sepertinya ustadz-ustadz ini berharap saya bersikap biasa saja dan menganggap mereka adik kelas saya, namun saya mencoba memposisikan situasi yang sebenarnya di mana mereka adalah Pimpinan tertinggi di madrasah muallimin yang harus saya Hormati.
Pembicaraan berlanjut ke masalah pengembangan madarasah dimana madrasah berharap saya ikut serta dalam pengembangan tersebut tentu dalam bidang yang saya tekuni. Madarasa dalam waktu yang mendesak ini memerlukan pengembangan salah satunya adalah backup power atau tenaga listrik jika sewaktu-waktu Listrik PLN ada gangguan atau pemadaman. Saya di minta untuk merumuskan seberapa besar daya yang di butuhkan muallimin untuk back power.
Pembicaraan berakhir karena rupanya unsur Pimpinan ini hendak mengadakan rapat mengenai kurikulum madarasah, sebetulnya rapat tersebut tertunda sekitar 1 jam karena kedatangan saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar