M. Yunus (m31n 89)

Pertama kali waktu kembali ke
Kampung halaman, ada sejuta keinginan yang hendak dilakukan untuk
Muhammadiyah. Ada sejuta agenda dari benak seorang kader yang
'disengajakan' untuk menjadi anak panah Muhammadiyah. Hanya saja ketika
berada di lapangan banyak hal yang berbeda dengan angan-angan yang jauh
hari dibayangkan. Barangkali kesalahan dalam memahami muhammadiyah,
menyebabkan entri point yang saya lakukan menjadi gamang, selama ini
yang terekam dalam benak dan menjadi Mind Set seolah-olah muhammadiyah
itu adalah gerakan
Fiqh Ibadah,
karena seolah-olah kalau berbicara tentang Muhammadiyah adalah identik
dengan HPTM (Himpunan Putusan Tarjih) yang didalamnya berbicara masalah
sholat yang benar, zakat yang benar, dan bid'ah-bid'ah., (dan ini yang
sedang dilakukan Mas Syakir saat ini dengan menulis "Sholat sesuai
Tuntunan Nabi" ) dan dalam pikiran saya saat itu (dan mungkin banyak
kader Muhammadiyah) tidak perlu berbicara masalah fiqh sosial, fiqh
syiasah, dan fiqh ekonomi. Dan dalam kenyataan di Masyarakat, sangat
sulit membedakan warga Muhammadiyah dengan yang lain, mereka juga
tahlilan, syarakalan, tibaan, qunutan dan yang membedakan hanya satu
Papan Namanya. Sehingga bayangan saya menjadi Buyar, dan ini bukan
menjadi masalah utama di Masyarakat.
Masalah utamanya ternyata adalah
kemiskinan atau permasalahan ekonomi, kalau sampai area ini kader
menjadi gamang, gerakan apa yang pas dibuat dari setting masyarakat yang
demikian, satu sisi mereka butuh problem solving disisi lain ekonomi
kader tidak jauh dari Mad'unya...alis sawaun kaana.
Kita sama sekali
belum diajarkan bagaimana konsep dakwah ekonomi Muhammadiyah, untungnya
saya banyak belajar berorganisasi di SKM (sekarang al Marhum siapa yang tanggung jawab?),
SKM telah mengajarkan keberanian beorganisasi dengan tidak menginduk ke
organisasi Pemuda manapun, sehingga seringkali Improvisasi menjadi
andalan, dan ini sebenarnya modal utama seorang kader. Nekat dan serba
bisa.
Saya Nekat mendirikan Koperasi, Nekat membuat toko Grosir,
Nekat Melakukan Community Development, bahkan nekat kerjasama dengan
Gereja Jawi Wetan mengembangkan pelatihan komputer (dan yang ini banyak
mendapat kecaman).
Dan saya jadi teringat Mas Adib (terakhir saya
dengar beliau aktif di JT) dan Mas Tukijo (terakhir saya dengar setelah
pulang dari Dakwah di Ambon beliau aktif di sebuah gerakan Tarekat
Kejawen yang menganggap sholat cukup dengan eleng dan sekarang
mengembangkan wirausaha di jl. kaliurang bersama jamaahnya) kedua orang
tersebut sangat giat mengembangkan Koperasi SKM, bahkan kios Koperasi
menjadi kamar utama tempat mereka tinggal mereka.
Di tingkat Nasional
Muhammdiyah juga tidak terlalu berselera jika diajak bicara tentang
ekonomi, ini bisa dilihat dari tokoh Nasional yang muncul di permukaan,
di bidang Ekonomi kita tidak bisa dilepaskan dari nama Syafi'i Antonio
atau yang lain, sedang Prof. Dawam Raharjo yang ahli ekonomi menjadi
bukan Muhammadiyah hanya gara-gara membela Ahmadiyah (dari sisi
humanismenya) blow up isu tentang Muhammadiyah yang paling besar saat
ini hanya berkisar masalah Perbedaan Pelaksanaan Sholat Idul Fitri,
sedang masalah ekonomi/perbankan
seolah-olah bukan menjadi area Muhammadiyah, sehingga wajar jika
pengeloaan Bank Persyarikatan menjadi bangkrut karena selama ini yang
banyak diurus Muhammadiyah adalah ikhtilaf-ikhtilaf yang sebenarnya
tidak perlu dibesar-besarkan. Apalagi jika bicara AsySyiasyah seolah
alergi tapi Mau (coba lihat kedekatan Din Samsudin dengan Capres
tertentu). Atau Buya Syafii yang kader Asli Muhammadiyah beliau juga
belum merasa asyik bicara tentang ekonomi Muhammadiyah, beliau masih
asyik menjotosi orang-orang Islam yang masih berbeda fikrah dalam
bergaul dengan non Muslim (baca tulisan-tulisan beliau di resonansi).
Jadi
wajar jika sulit Menghidup-hidupkan Muhammadiyah karena pola pikir
tentang Muhammadiyah menjadi bias. Seolah-olah kalau berbicara bisnis, jangan di
Muhammadiyah karena itu dianggap mencari hidup di Muhammadiyah sehingga
wajar kalau kader Muhammadiyah mencari hidup diluar Muhammadiyah dan
susahnya lalu sulit untuk menghidupi Muhammadiyah karena ternyata rumah
lain yang menghidupi kita minta kita menghidup-hidupkan rumah mereka. Semoga tidak betul.
m3circle.multiply.com/journal/item/41/HIDUP-HIDUPILAH-MUHAMMADIYAH-DAN-CARI-HIDUP-DI-MUHAMMADIYAH