Militan

Militan
Pelopor Militan

Jumat, 08 Februari 2013

PPMMM Goes To IRM

(Tulisan ini saya dapatkan di http://s-miftah-kudo.blog.com/2160271/. sebagai bahan sejarah saya pikir ini perlu diketahui oleh M3mber atau alumni. saya sudah berusaha minta izin agar tulisan ini bisa ditempatkan di sini. namun hingga saat ini saya belum mendapat izin. email pun tidak terlacak. akhirnya saya beranikan diri untuk mengcopynya dan memajangnya di sini. jika penulisnya berkeberatan, akan dihapus.
berbicara tentang perubahan itu, saya juga ingin mendengar cerita dari alumni yang lain atau yang tahu permasalahan perubahan SKM, terima kasih)


Yah, bertahun-tahun sudah penyakit kebingungan melanda siswi Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta. Dan pada periode 2007/2008, kami pimpinan PPMMM memutuskan untuk melebur menjadi IRM. Mungkin bisa dikatakan terlambat jika melihat keadaan IRM yang sedang bersiap diri untuk berubah ke IPM, namun juga bisa dikatakan cukup cepat, melihat keadaan kami yang mendadak memutuskan untuk melebur ke IRM, dengan segala persiapan yang pontang-panting bertanya kesana kemari untuk mendapakan sekadar persetujuan dari pihak madrasah atau pun dukungan dari petinggi IRM di atas sana, jauuuuh sekali. Dan yang jelas dengan perbedaan pendapat yang menimbulkan pro kontra atau bahkan perselisihan di kalangan pimpinan dan anggota.

Hidup-hidupilah Muhammadiyah dan Cari Hidup di Muhammadiyah

M. Yunus (m31n 89)

Pertama kali waktu kembali ke Kampung halaman, ada sejuta keinginan yang hendak dilakukan untuk Muhammadiyah. Ada sejuta agenda dari benak seorang kader yang 'disengajakan' untuk menjadi anak panah Muhammadiyah. Hanya saja ketika berada di lapangan banyak hal yang berbeda dengan angan-angan yang jauh hari dibayangkan. Barangkali kesalahan dalam memahami muhammadiyah, menyebabkan entri point yang saya lakukan menjadi gamang, selama ini yang terekam dalam benak dan menjadi Mind Set seolah-olah muhammadiyah itu adalah gerakan Fiqh Ibadah, karena seolah-olah kalau berbicara tentang Muhammadiyah adalah identik dengan HPTM (Himpunan Putusan Tarjih) yang didalamnya berbicara masalah sholat yang benar, zakat yang benar, dan bid'ah-bid'ah., (dan ini yang sedang dilakukan Mas Syakir saat ini dengan menulis "Sholat sesuai Tuntunan Nabi" ) dan dalam pikiran saya saat itu (dan mungkin banyak kader Muhammadiyah) tidak perlu berbicara masalah fiqh sosial, fiqh syiasah, dan fiqh ekonomi. Dan dalam kenyataan di Masyarakat, sangat sulit membedakan warga Muhammadiyah dengan yang lain, mereka juga tahlilan, syarakalan, tibaan, qunutan dan yang membedakan hanya satu Papan Namanya. Sehingga bayangan saya menjadi Buyar, dan ini bukan menjadi masalah utama di Masyarakat.



Masalah utamanya ternyata adalah kemiskinan atau permasalahan ekonomi, kalau sampai area ini kader menjadi gamang, gerakan apa yang pas dibuat dari setting masyarakat yang demikian, satu sisi mereka butuh problem solving disisi lain ekonomi kader tidak jauh dari Mad'unya...alis sawaun kaana.

Kita sama sekali belum diajarkan bagaimana konsep dakwah ekonomi Muhammadiyah, untungnya saya banyak belajar berorganisasi di SKM (sekarang al Marhum siapa yang tanggung jawab?), SKM telah mengajarkan keberanian beorganisasi dengan tidak menginduk ke organisasi Pemuda manapun, sehingga seringkali Improvisasi menjadi andalan, dan ini sebenarnya modal utama seorang kader. Nekat dan serba bisa.

Saya Nekat mendirikan Koperasi, Nekat membuat toko Grosir, Nekat Melakukan Community Development, bahkan nekat kerjasama dengan Gereja Jawi Wetan mengembangkan pelatihan komputer (dan yang ini banyak mendapat kecaman).

Dan saya jadi teringat Mas Adib (terakhir saya dengar beliau aktif di JT) dan Mas Tukijo (terakhir saya dengar setelah pulang dari Dakwah di Ambon beliau aktif di sebuah gerakan Tarekat Kejawen yang menganggap sholat cukup dengan eleng dan sekarang mengembangkan wirausaha di jl. kaliurang bersama jamaahnya) kedua orang tersebut sangat giat mengembangkan Koperasi SKM, bahkan kios Koperasi menjadi kamar utama tempat mereka tinggal mereka.

Di tingkat Nasional Muhammdiyah juga tidak terlalu berselera jika diajak bicara tentang ekonomi, ini bisa dilihat dari tokoh Nasional yang muncul di permukaan, di bidang Ekonomi kita tidak bisa dilepaskan dari nama Syafi'i Antonio atau yang lain, sedang Prof. Dawam Raharjo yang ahli ekonomi menjadi bukan Muhammadiyah hanya gara-gara membela Ahmadiyah (dari sisi humanismenya) blow up isu tentang Muhammadiyah yang paling besar saat ini hanya berkisar masalah Perbedaan Pelaksanaan Sholat Idul Fitri, sedang masalah ekonomi/perbankan seolah-olah bukan menjadi area Muhammadiyah, sehingga wajar jika pengeloaan Bank Persyarikatan menjadi bangkrut karena selama ini yang banyak diurus Muhammadiyah adalah ikhtilaf-ikhtilaf yang sebenarnya tidak perlu dibesar-besarkan. Apalagi jika bicara AsySyiasyah seolah alergi tapi Mau (coba lihat kedekatan Din Samsudin dengan Capres tertentu). Atau Buya Syafii yang kader Asli Muhammadiyah beliau juga belum merasa asyik bicara tentang ekonomi Muhammadiyah, beliau masih asyik menjotosi orang-orang Islam yang masih berbeda fikrah dalam bergaul dengan non Muslim (baca tulisan-tulisan beliau di resonansi).

Jadi wajar jika sulit Menghidup-hidupkan Muhammadiyah karena pola pikir tentang Muhammadiyah menjadi bias. Seolah-olah kalau berbicara bisnis, jangan di Muhammadiyah karena itu dianggap mencari hidup di Muhammadiyah sehingga wajar kalau kader Muhammadiyah mencari hidup diluar Muhammadiyah dan susahnya lalu sulit untuk menghidupi Muhammadiyah karena ternyata rumah lain yang menghidupi kita minta kita menghidup-hidupkan rumah mereka. Semoga tidak betul.

m3circle.multiply.com/journal/item/41/HIDUP-HIDUPILAH-MUHAMMADIYAH-DAN-CARI-HIDUP-DI-MUHAMMADIYAH

Semua Masuk Surga Kecuali Satu


Lampu dari tanah ini berbeda dengan sumbu itu,
tetapi cahaya mereka tidak berbeda: ia dari Alam Sana.
Jika engkau terus memandang kaca lampu, engkau akan bingung,
karena dari kaca muncullah sejumlah keragaman.
Tetapi jika pandanganmu tetap kepada Cahaya,
engkau akan terbebas dari keragaman
dan bermacam-macamnya bentuk yang terbatas. (Rumi)

Umatku akan berkelompok-kelompok hingga menjadi tujuh puluh tiga kelompok, yang selamat diantara mereka satu kelompok dan sisanya binasa. `Siapakah yang satu itu? tanya seseorang. Beliau menjawab :`Ahl as-Sunnah wa al-jama`ah.“

Pernah dengar hadis itu? hadis seperti ini menjadi senjata penting untuk mengklaim kebenaran dan menyalahkan bahkan mengkafirkan kelompok lain. Betulkah pemaknaannya sangat sempit dan menunjuk pada satu golongan tertentu yang sekarang -atau dulu- pernah ada?