(Tulisan ini saya dapatkan di http://s-miftah-kudo.blog.com/2160271/.
sebagai bahan sejarah saya pikir ini perlu diketahui oleh M3mber atau
alumni. saya sudah berusaha minta izin agar tulisan ini bisa ditempatkan
di sini. namun hingga saat ini saya belum mendapat izin. email pun
tidak terlacak. akhirnya saya beranikan diri untuk mengcopynya dan
memajangnya di sini. jika penulisnya berkeberatan, akan dihapus.
berbicara tentang perubahan itu, saya juga ingin mendengar cerita dari alumni yang lain atau yang tahu permasalahan perubahan SKM, terima kasih)
berbicara tentang perubahan itu, saya juga ingin mendengar cerita dari alumni yang lain atau yang tahu permasalahan perubahan SKM, terima kasih)
Yah,
bertahun-tahun sudah penyakit kebingungan melanda siswi Madrasah
Mu’allimaat Muhammadiyah Yogyakarta. Dan pada periode 2007/2008, kami
pimpinan PPMMM memutuskan untuk melebur menjadi IRM. Mungkin bisa
dikatakan terlambat jika melihat keadaan IRM yang sedang bersiap diri
untuk berubah ke IPM, namun juga bisa dikatakan cukup cepat, melihat
keadaan kami yang mendadak memutuskan untuk melebur ke IRM, dengan
segala persiapan yang pontang-panting bertanya kesana kemari untuk
mendapakan sekadar persetujuan dari pihak madrasah atau pun dukungan
dari petinggi IRM di atas sana, jauuuuh sekali. Dan yang jelas dengan
perbedaan pendapat yang menimbulkan pro kontra atau bahkan perselisihan
di kalangan pimpinan dan anggota.
Isak
tangis dan canda tawa mewarnai perjuangan kami. Tapi hal itulah yang
merupakan bumbu perjuangan kami, yang membuat perjuangan ini menjadi
manis, pahit, asam bahkan kecut sekalipun. Dan tentunya perjuangan itu
menjadi amat indah dan berkesan. Yahh, pada hakekatnya, meleburnya PPMMM
ke IRM tidak mengubah jati diri kami, amien. Al-qur’an dan Sunnah Rosul
masih menjadi pedoman, AD/ART Muhammadiyah tentunya menjadi pijakan
langkah perjuangan kami. Namun sekali lagi kami nyatakan, bahwa kondisi
dunia luar cukup memberikan pengaruh yang significant terhadap jalan
pikiran dan arah perjuangan IRM Mu’allimaat.
Wal akhirah.. Hhhhh... nafas lega dapat kami rasakan ketika Peresmian dan Pelantikan Pimpinan Ranting IRM Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah. Sayangnya, nafas lega itu harus didahului dengan tetesan air mata, dan saat itu kami tidak menafikan bahwa sesungguhnya kami masih amat cinta kepada PPMMM. Dan cinta itu memang tidak harus memiliki, berkorban untuk sesuatu yang dicintai itulah makna cinta yang hakiki. Apa kata anggota Muhammadiyah tentang Mu’allimaat, sekolah kader yang dibawahi langsung oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, jika ortomnya pun tidak mempunyai jalur struktural ke organisasi Muhammdiyah. Dan alasan itulah yang membuat kami tidak mau menghinakan nama Madrasah Mu’allimaat dan mengkhianati Muhammadiyah Dan walaupun nafas lega telah tersembur dari paru-paru sehingga kami dapat bernafas dengan lancar, sepertinya penyakit asma kami mulai kumat lagi. Nafas tidak lancar karena memikirkan kondisi Muhammadiyah saat ini yang cukup memprihatinkan, dan itulah tantangan yang harus kami hadapi saat ini. Kewajiban kitalah, semua anggota Muhammadiyah, untuk mencari dokter yang dapat menyembuhkan penyakit Muhammadiyah, sebelum menjadi kritis atau bahkan sakaratul maut... na’udzubillahi min dzalik.
Wa a’udzubillahi an akuuna minal munaafiqiin. Kami tidak mau jadi orang munafik yang hanya bisa bicara tanpa bisa melakukannya (kabura maqtan ‘indallahi an taquulu ma laa taf’aluun). Dan sepertinya hal itu sulit sekali untuk dilakukan, karena kebanyakan orang Islam lebih pintar berbicara daripada bekerja dan mendengar, hehe.. n may be we are too.
Sumbernya di sini
Wal akhirah.. Hhhhh... nafas lega dapat kami rasakan ketika Peresmian dan Pelantikan Pimpinan Ranting IRM Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah. Sayangnya, nafas lega itu harus didahului dengan tetesan air mata, dan saat itu kami tidak menafikan bahwa sesungguhnya kami masih amat cinta kepada PPMMM. Dan cinta itu memang tidak harus memiliki, berkorban untuk sesuatu yang dicintai itulah makna cinta yang hakiki. Apa kata anggota Muhammadiyah tentang Mu’allimaat, sekolah kader yang dibawahi langsung oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, jika ortomnya pun tidak mempunyai jalur struktural ke organisasi Muhammdiyah. Dan alasan itulah yang membuat kami tidak mau menghinakan nama Madrasah Mu’allimaat dan mengkhianati Muhammadiyah Dan walaupun nafas lega telah tersembur dari paru-paru sehingga kami dapat bernafas dengan lancar, sepertinya penyakit asma kami mulai kumat lagi. Nafas tidak lancar karena memikirkan kondisi Muhammadiyah saat ini yang cukup memprihatinkan, dan itulah tantangan yang harus kami hadapi saat ini. Kewajiban kitalah, semua anggota Muhammadiyah, untuk mencari dokter yang dapat menyembuhkan penyakit Muhammadiyah, sebelum menjadi kritis atau bahkan sakaratul maut... na’udzubillahi min dzalik.
Wa a’udzubillahi an akuuna minal munaafiqiin. Kami tidak mau jadi orang munafik yang hanya bisa bicara tanpa bisa melakukannya (kabura maqtan ‘indallahi an taquulu ma laa taf’aluun). Dan sepertinya hal itu sulit sekali untuk dilakukan, karena kebanyakan orang Islam lebih pintar berbicara daripada bekerja dan mendengar, hehe.. n may be we are too.
Sumbernya di sini

Tidak ada komentar:
Posting Komentar