Militan

Militan
Pelopor Militan

Jumat, 08 Februari 2013

Semua Masuk Surga Kecuali Satu


Lampu dari tanah ini berbeda dengan sumbu itu,
tetapi cahaya mereka tidak berbeda: ia dari Alam Sana.
Jika engkau terus memandang kaca lampu, engkau akan bingung,
karena dari kaca muncullah sejumlah keragaman.
Tetapi jika pandanganmu tetap kepada Cahaya,
engkau akan terbebas dari keragaman
dan bermacam-macamnya bentuk yang terbatas. (Rumi)

Umatku akan berkelompok-kelompok hingga menjadi tujuh puluh tiga kelompok, yang selamat diantara mereka satu kelompok dan sisanya binasa. `Siapakah yang satu itu? tanya seseorang. Beliau menjawab :`Ahl as-Sunnah wa al-jama`ah.“

Pernah dengar hadis itu? hadis seperti ini menjadi senjata penting untuk mengklaim kebenaran dan menyalahkan bahkan mengkafirkan kelompok lain. Betulkah pemaknaannya sangat sempit dan menunjuk pada satu golongan tertentu yang sekarang -atau dulu- pernah ada? 

Hadis ini cukup beragam, baik dari segi matan, sanad dan derajatnya. Saya mengutip apa yang disampaikan oleh Abduh Zulfidar Akaha dalam dialog bersama saya tentang hadis ini. Abduh menulis : hadits tentang perpecahan umat islam menjadi 73 golongan ada yg shahih, hasan dan dh'aif.  Namun karena saling menguatkan, para ulama mengatakan hadits ini shahih dan bisa dijadikan hujjah. Secara mutlak tdk ada kata "ahlus sunnah wal jama'ah" dalam semua hadits Nabi saw. yg ada adalah kata "al-jama'ah" dan kata "sunnah" dengan segala variannya yang kemudian disebut sbg ahlus sunnah.

Sebelum melihat hadis yang bertolak belakang ada baiknya kita membaca penjelasan Muhammad Abduh berkaitan dengan isu perpecahan ummat, yang pendapatnya dinukil dalam Tafsir Al Manar.

Pada penafsiran Q.S al-An`am [6]:159. Penyusun mengutip pendapat M. Abduh. Menurut Abduh, tidak dapat disangkal bahwa ummat Nabi Muhammad saw telah berkelompok-kelompok. Tidak jadi soal apakah jumlahnya sudah mencapai 73 kelompok atau belum. Tidak diragukan juga bahwa yang selamat diantara mereka hanya satu kelompok, yakni yang sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad saw dan sahabat-sahabat beliau. Namun menentukan kelompok yang selamat ini tidaklah mudah. 

Seseorang bisa saja mengatakan bahwa kelompok yang satu itu sudah pernah ada, tetapi kini telah punah, sehinngga semua kelompok yang kini ada tidak akan selamat. Bisa juga dikatakan bahwa kelompok-kelompok itu belum mencapai 73 kelompok karena yang ada sekarang walau banyak dapat digabung hanya dalam beberapa kelompok, dan bisa juga dikatakan bahwa yang satu yang selamat  itu belum lagi hadir hingga kini. 

Bisa juga semua yang ada hingga kini selamat, karena walaupun kelihatannya mereka berkelompok-kelompok, tetapi pada hakikatnya mereka semua semua sama, karena semua menganut prinsip-prinsip dasar yang diajarkan Nabi Muhammad saw, seperti keesaan Allah, kenabian, dan keniscayaan Hari Kemudian. Apa yang mereka perselisihkan adalah berkaitan dengan furu'iyyah. Seandainya jelas dan pasti, tentu mereka tidak akan berselisih karena semua mempercayai keesaan Allah dan kenabian Muhammad saw.

Penjelasan yang sangat menarik dan berimbang dari penyusun Tafsir Al Manar. Hal senada juga disampaikan oleh Dr. Yusuf Al Qardhawi (lihat : http://myquran.org/forum/index.php?topic=73749.0 ). Sayang sekali pendapat seperti ini sering kali tidak bergaung.

Di sisi lain ternyata terdapat riwayat yang justru bertolak belakang dengan riwayat pertama dan riwayat ini jarang dipakai. Riwayat itu mengatakan, “Umatku akan berkelompok-kelompok hingga mencapai tujuh puluh sekian kelompok. Sermuanya masuk ke surga kecuali satu kelompok." 

 Hadits ini diriwayatkan oleh Ibn an-Najjar dan dinilai shahih oleh pakar hadits, al-Hakim. Dalam riwayat ad-Dailami, “Yang binasa dari kelompok-kelompok itu hanya satu.”  Sedang dalam Hamisy (catatan pinggir) kitab al-Mizan (karya Imam asy-Sya`rani, [w.973H/1565M]) tercantum riwayat melalui sahabat Nabi, Anas ra., bahwa Nabi bersabda : “Umatku akan berpecah belah menjadi tujuh puluh sekian kelompok, semuanya di surga kecuali az-Zanadiqah.”

Tentang hadits “Umatku akan berkelompok-kelompok hingga mencapai tujuh puluh sekian kelompok. Semuanya masuk surga kecuali satu kelompok." dikatakan oleh lajnah daimah lil ifta`saudi (fatwa no. 7278) yg ditanda tangani syekh abdullah qa'ud, abdurrazaq afifi, dan Bin Baz: bahwa hadits ini la ashla lahu (tdk ada dasarnya.

Proses seperti ini adalah satu hal yang wajar dalam dunia perhadisan. Satu mensahihkan sementara satu mendaifkan. Yang menarik, Al Hakim mensahihkan hadis dan mensahihkan hadis “semua masuk surga” juga meriwayatkan dan mensahihkan hadis “semua masuk neraka”.

Al hasil kita memiliki dua pandangan yang secara lahiriah berbeda. Apa yang kita lakukan ? apalagi jika ada dua hadis seperti yang dikatakan Al. Dalam kondisi seperti ini saya akan mencari titik temu dalam dua kutub yang berbeda. Ternyata penjelasan kedua hadis yang bertentangan ini bisa ditemukan dalam pandangan Muhammad Abduh tadi. Betul bahwa umat ini bergolongan-golongan tapi itu tidak menunjukan perpecahan, semua satu ummat. Dan semua akan masuk surga. Dan hadis “semua masuk surga” akan bisa bersandingan dengan hadis sahih lainnya.

jika memang semua masuk surga, mari jadikan perbedaan itu sebagai khazanah kekayaan ummat. Perbedaan bukanlah perpecahan. Perbedaan harus ditoleransi selama berpegang pada Al Quran dan Sunnah Rasul. Apalagi ia dapat menjadi sumber kekayaan intelektual serta jalan keluar bagi kesulitan yang dihadapi. Keragaman dan perbedaan dapat menjadi rahmat selama dialog dan syarat-syaratnya terpenuhi. Karena itu, perbedaan tidak otomatis menjadi buruk atau bencana, sebagaimana tidak juga ia selalu baik dan bermanfaat. Ia menjadi bencana jika perbedaan mengarah untuk menjadi perselisihan sambil masing-masing menganggap diri atau kelompoknya memonopoli kebenaran sedang yang lain selalu salah.

Sumber tulisan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar