Militan

Militan
Pelopor Militan

Sabtu, 02 Februari 2013

Pentingnya Muhammadiyah Kembali ke Khitoh

oleh: Yusuf Jamhur

Tulisan ini selain berguna bagi guru-guru SD dan SMP muhamadiayah terutama bidang pelajaran kemuhamadiyahan, juga perlu di baca oleh kader-kader Instan muhamadiyah yang sedang menyibukan dirinya berkarier di muhamadiyah. Di harapkan setelah membaca tulisan ini kader-kader instan ini tidak terkontaminasi budaya "wani piro" atau tidak menjadi mutan "dagang wedhus".

Muhammadiyah didirikan di Kampung Kauman Yogyakarta, pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H/18 Nopember 1912 oleh seorang yang bernama Muhammad Darwis, kemudian dikenal dengan KHA Dahlan .
Beliau adalah pegawai kesultanan Kraton Yogyakarta sebagai seorang Khatib dan sebagai pedagang. Melihat keadaan ummat Islam pada waktu itu dalam keadaan jumud, beku dan penuh dengan amalan-amalan yang bersifat mistik, beliau tergerak hatinya untuk mengajak mereka kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya berdasarkan Qur`an dan Hadist. Oleh karena itu beliau memberikan pengertian keagamaan dirumahnya ditengah kesibukannya sebagai Khatib dan para pedagang.

Mula-mula ajaran ini ditolak, namun berkat ketekunan dan kesabarannya, akhirnya mendapat sambutan dari keluarga dan teman dekatnya. Profesinya sebagai pedagang sangat mendukung ajakan beliau, sehingga dalam waktu singkat ajakannya menyebar ke luar kampung Kauman bahkan sampai ke luar daerah dan ke luar pulau Jawa. Untuk mengorganisir kegiatan tersebut maka didirikan Persyarikatan Muhammadiyah. Dan kini Muhammadiyah telah ada diseluruh pelosok tanah air.
Disamping memberikan pelajaran/pengetahuannya kepada laki-laki, beliau juga memberi pelajaran kepada kaum Ibu muda dalam forum pengajian yang disebut "Sidratul Muntaha". Pada siang hari pelajaran untuk anak-anak laki-laki dan perempuan. Pada malam hari untuk anak-anak yang telah dewasa.
KH A Dahlan memimpin Muhammadiyah dari tahun 1912 hingga tahun 1922 dimana saat itu masih menggunakan sistem permusyawaratan rapat tahunan. Pada rapat tahun ke 11, Pemimpin Muhammadiyah dipegang oleh KH Ibrahim yang kemudian memegang Muhammadiyah hingga tahun 1934.Rapat Tahunan itu sendiri kemudian berubah menjadi Konggres Tahunan pada tahun 1926 yang di kemudian hari berubah menjadi Muktamar tiga tahunan dan seperti saat ini Menjadi Muktamar 5 tahunan.
Saat ini pelan tapi pasti Muhammadiyah, semakin menjauh dari dan melenceng dari garis-garis pejuangan awalnya. tidak kita pungkiri masalah material dan jabatan telah membutakan sebagian kader muhamadiyah. Semakin tingginya biaya masuk ke sekolah muhamadiyah mencerminkan liberalisasi semakin menancapkan pengaruhnya di ormas ini. Dinamika negatif politik interen muhammadiyah sudah seperti kentut yang tidak berbunyi.
Sementara sloga-slogan seperti" Hidup-hidupilah muhamadiyah dan jangan mencari hidup di muhamadiyah" sudah hilang di telan liberalisme. Dan "sedikit bicara banyak bekerja" sudah jauh pergi di tendang oleh ahli-ahli retorika sejati.  Keikhlasan hanya ada pada setiap pengajian yang diadakan di mushola dan mesjid-mesjid muhamadiya sementara dalam kehidupan nyata keikhlasan sudah di nilai dengan chek dan amplop berisi dolar dan fulus.
Aakhirnya kita berharap masih ada beberepa pendekar yang peka dan mau mengembalikan persyarikatan kita tercinta ini ke jalan dimana awal keberadaanya. juga kita berharap kepada pertolongan Allah agar gerakan ini terbebas dari zombie dan mutan politik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar