Militan

Militan
Pelopor Militan

Minggu, 03 Februari 2013

Wardah Hafidz, Produk Muallimat Yogyakarta?



Di keluarga Wardah, ada peraturan tidak tertulis bagi sepuluh orang anak-anak orang-tuanya agar bersekolah di pendidikan Islam minimal hingga tamat sekolah menengah. Lelakinya di kirim ke Gontor, perempuan-nya ke Mualimat di Jogjakarta, setelah sebelumnya sepuluh anak itu menamatkan pendidikan SMP mereka di madrasah milik keluarga di Jombang. Syukur-syukur anak-anak itu lalu mau melanjut-kan studi agama lebih tinggi.
Ide itu sejak awal mencemaskan Wardah. Entah karena alasan apa, Wardah sejak remaja sudah tidak terlalu bergairah dengan ide penyeragaman seperti itu. Ia suka bilang kepada orang-tuanya bahwa dirinya memilih sekolah umum saja. Tentu saja ide itu kontan mengalami penolakan.
Sewaktu dikirim ke Mualimat, Wardah banyak menangis tidak setuju. Orangtuanya tidak surut mengalah. Menyerahlah Wardah. Di sekolah itu ia merasa tidak pas dengan banyaknya aturan-aturan.
Di sekolah itu Wardah menyebut dirinya sebagai "pembuat onar". Ia jago dalam bahasa asing terutama bahasa inggris tapi ogah-ogahan terhadap bahasa yang berbau Arab. Bukan karena bahasa Arabnya, tapi bagian dari pembangkangan akan tradisi keluarganya. Di Mualimat ia sekolah selama enam tahun. Lepas dari sana, ia bertekad memulai pilihannya sendiri.
"Saya sudah melakukan apa yang keluarga inginkan. Kini saya mau melakukan apa yang saya inginkan," ujar Wardah ketika keluarganya mulai menganjurkan dirinya masuk sekolah tinggi agama.

4 komentar:

  1. wah pastinya saya kurang tau, tapi kalo melihat dari usianya...mungkin angkatan 70 an akhirlah....

    BalasHapus
  2. Maaf ... Jangan-jangan bukan M-3at Muhammadiyah? Dulu ada Mu'allimat NU, di Ngampilan. Muridnya sedikit. tapi sekitar tahun 80-an akhir sudah tak terdengar lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ahmadaziez...selama tidak ada fakta dan data baru...semua kemungkinan bisa terjadi....termasuk perkiraan kamu...

      Hapus